Utama

Penyebab Bunuh Diri Bukan karena Satu Faktor Saja

233
×

Penyebab Bunuh Diri Bukan karena Satu Faktor Saja

Sebarkan artikel ini
Ari Pamungkas.

Tertekan Tak Boleh Dipendam, Jangan Abaikan Tanda Krisis

PALANGKA RAYA – Rentetan kasus dugaan bunuh diri yang terjadi di Kalimantan Tengah, khususnya di Kota Palangka Raya, sepanjang Januari hingga Juni 2026 menjadi alarm serius bagi seluruh pihak. Dalam kurun waktu enam bulan, sedikitnya enam kasus serupa tercatat terjadi dengan latar belakang yang diduga didominasi persoalan psikologis dan tekanan ekonomi. Kondisi tersebut dinilai tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan individu semata, tapi masalah kesehatan mental yang membutuhkan perhatian bersama.

Dua kasus terbaru terjadi hanya dalam selang waktu satu hari di Kota Palangka Raya. Seorang mahasiswa berinisial KVA (23) ditemukan meninggal di kamar kosnya. Sementara seorang pria berinisial SY (36) ditemukan meninggal di lingkungan tempat tinggalnya. Berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, tidak ditemukan indikasi tindak pidana pada kedua peristiwa tersebut. Polisi menduga keduanya mengalami tekanan psikologis, dengan persoalan finansial menjadi salah satu faktor yang sedang didalami.

Pada kasus mahasiswa tersebut, penyidik menemukan sejumlah petunjuk dari barang bukti elektronik yang mengarah pada tekanan akibat persoalan ekonomi. Korban diketahui bekerja sambil kuliah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara pada kasus SY, kepolisian memperoleh keterangan saksi bahwa korban diduga menghadapi himpitan ekonomi sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia. Meski demikian, kepolisian menegaskan dugaan motif tersebut masih didalami dan bukan satu-satunya penyebab.

Psikolog sekaligus Dosen UIN Palangka Raya Ari Pamungkas mengatakan, tindakan mengakhiri hidup tidak pernah disebabkan satu faktor tunggal. Menurutnya, kondisi tersebut biasanya merupakan akumulasi berbagai persoalan yang saling berkaitan. Mulai faktor biologis, psikologis, sosial hingga lingkungan. Depresi, stres berkepanjangan, trauma, konflik keluarga, tekanan pekerjaan maupun akademik, persoalan ekonomi, hingga minimnya dukungan sosial dapat saling memperkuat tekanan yang dirasakan seseorang.

“Ketika tekanan yang dialami seseorang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan yang dimiliki untuk mengatasinya, mereka bisa memandang tidak ada lagi jalan keluar. Padahal sebenarnya masih banyak bentuk bantuan yang dapat diberikan apabila lingkungan mampu mengenali kondisinya lebih awal,” jelasnya, Sabtu (27/6/2026).

Menurut dia, masyarakat sebenarnya dapat mengenali sejumlah perubahan perilaku yang patut diwaspadai. Di antaranya seseorang mulai menarik diri dari lingkungan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, mengalami perubahan pola tidur dan makan, mudah marah, sering merasa putus asa, hingga menganggap dirinya menjadi beban bagi orang lain.

Namun Ari mengingatkan, tidak semua individu memperlihatkan tanda yang jelas sehingga kepekaan keluarga, teman, maupun rekan kerja menjadi sangat penting.

Meningkatnya tekanan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat juga dapat memengaruhi kondisi psikologis apabila berlangsung dalam waktu lama. Ketidakpastian finansial, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, membayar utang, maupun menanggung beban keluarga dapat memicu stres kronis, kecemasan, gangguan tidur, bahkan menurunkan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan secara rasional.

Meski begitu, ia menegaskan tekanan ekonomi bukanlah penyebab tunggal seseorang mengakhiri hidup. “Penyebab seseorang mengakhiri hidup sebenarnya tidak hanya disebabkan satu faktor saja,” tegas Ari.

Ia menilai upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat. Keluarga, teman, sekolah, kampus hingga tempat kerja diharapkan mampu menciptakan ruang yang aman bagi seseorang menyampaikan keluhan tanpa takut dihakimi. “Mendengarkan dengan empati, menjaga komunikasi, serta mengajak mencari bantuan profesional jauh lebih efektif dibanding memberikan penilaian atau menyalahkan individu yang sedang mengalami krisis,” lanjut Ari.

Selain pendampingan terhadap individu yang mengalami tekanan psikologis, Ari juga mengingatkan pentingnya perhatian bagi keluarga yang ditinggalkan. Menurutnya, mereka kerap mengalami duka mendalam, rasa bersalah, penyesalan, kecemasan, hingga gangguan psikologis lain sehingga membutuhkan pendampingan agar dapat melalui proses berduka secara sehat.

Ia juga mengimbau media dan masyarakat untuk menyikapi setiap kasus secara bijaksana. Pemberitaan hendaknya tidak mengedepankan sensasi, spekulasi maupun rincian yang tidak perlu, tetapi lebih fokus pada edukasi kesehatan mental, pentingnya mencari pertolongan, serta memperkuat kepedulian sosial.

“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jangan biarkan seseorang merasa harus menghadapi seluruh bebannya sendirian. Kepedulian sekecil apa pun dapat menjadi langkah awal untuk menyelamatkan kehidupan,” ungkap Ari Pamungkas. (ter/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *