Dari Januari 2025 hingga Mei 2026 Ada 49 Kasus
PALANGKA RAYA – Kota Palangka Raya menghadapi persoalan serius terkait kesehatan mental. Berdasarkan data Rumah Sakit Kalawa Atei, jumlah kasus Risiko Bunuh Diri (RBD) berdasarkan diagnosis keperawatan, tercatat ada 49 kasus dari Januari 2025 hingga Mei 2026.
Pada 2025 tercatat 32 kasus. Sementara hingga Mei 2026, sudah 17 kasus. Kelompok usia dewasa menjadi yang paling banyak mengalami percobaan bunuh diri. Yakni 39 kasus, disusul remaja 9 kasus.
Melihat tren tersebut, Direktur Rumah Sakit Jiwa Kalawa Atei Palangka Raya dr Seniriaty menegaskan, persoalan kesehatan mental dan upaya pencegahan bunuh diri menjadi perhatian serius rumah sakit.
Menurut dia, fungsi rumah sakit jiwa tidak hanya sebatas memberikan pengobatan kepada pasien, tetapi juga menjalankan upaya promotif, preventif, dan edukatif kepada masyarakat.
“Fungsi rumah sakit jiwa itu tidak hanya kuratif saja, tetapi juga promotif, edukatif, dan preventif. Ke depan, angka-angka kasus kesehatan mental ini menjadi pekerjaan rumah kami. Selain itu, di rumah sakit juga ada layanan kesehatan mental untuk pencegahan bunuh diri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, percobaan bunuh diri dipengaruhi berbagai faktor sehingga tidak dapat disamaratakan. “Banyak faktor. Di antaranya adanya gangguan psikotik, depresi, hingga tekanan berat. Tidak bisa disamaratakan. Harus dilihat kasus per kasus. Misalnya apakah pasien benar-benar mengalami gangguan kesehatan mental, atau tidak terkontrol dalam pengobatan sehingga muncul halusinasi dan waham,” jelasnya.
Menurut Seniriaty, kondisi tersebut dapat berawal dari stres yang tidak tertangani dengan baik hingga berkembang menjadi depresi dan gangguan mental yang lebih berat.
“Awalnya bisa dari stres, kemudian berkembang menjadi depresi hingga kondisi yang lebih berat. Karena itu penting deteksi dini kesehatan mental. Kita bersyukur saat ini masyarakat, terutama generasi muda, sudah mulai sadar pentingnya kesehatan mental,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, RS Kalawa Atei telah menyediakan layanan kesehatan mental yang terintegrasi, termasuk penanganan bagi individu yang berisiko melakukan bunuh diri.
“Kami memiliki layanan dan jejaring untuk pencegahan bunuh diri, termasuk di unit gawat darurat. Tujuannya untuk menekan angka kasus dan meningkatkan penanganan cepat,” ungkapnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental dengan menerapkan manajemen stres yang baik dan tidak ragu mencari bantuan profesional apabila mengalami tekanan psikologis.
“Manajemen stres itu penting. Kita harus bisa mengalihkan tekanan ke hal-hal positif, seperti aktivitas yang sehat atau healing. Yang paling penting adalah menyadari kesehatan mental itu penting dan segera mencari bantuan profesional jika ada masalah. Jangan dibiarkan,” tegasnya.
Seniriaty menambahkan, layanan kesehatan mental di RS Kalawa Atei dapat diakses masyarakat melalui pembiayaan *BPJS Kesehatan* maupun *Kartu Indonesia Sehat (KIS)* sehingga tidak perlu khawatir mengenai biaya pengobatan.
Ia juga mengajak masyarakat menghentikan stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). “Jangan sampai ODGJ dianggap pasti melakukan kekerasan. Itu tidak benar. Faktanya, kekerasan lebih banyak dilakukan oleh orang yang tidak memiliki gangguan jiwa. Stigma ini harus dihentikan agar tidak terjadi diskriminasi,” pungkasnya. (ifa/ens)
Data Percobaan Bunuh Diri:
(Tahun 2025 – Mei 2026)
- 2025 : 32 Kasus
- Januari – Mei 2026 : 17 Kasus
Data Berdasarkan Umur:
- Anak (5-9 Tahun) : 0 Kasus
- Remaja (10-18 Tahun) : 9 Kasus
- Dewasa (19-59 Tahun) : 39 Kasus
- Lansia (60+ Tahun) : 1 Kasus
Sumber: RSJ Kalawa Atei Palangka Raya.












