Lamandau

Tak Ada Kesenjangan Pendidikan Kota dan Desa

57
×

Tak Ada Kesenjangan Pendidikan Kota dan Desa

Sebarkan artikel ini
BERSAMA ANAK-ANAK : Bunda PAUD Kabupaten Lamandau Norol Latifah Rizky Aditya Putra bersama anak-anak Pendidikan usia dini di Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau, Sabtu (27/6/2026). FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

Harapan Bunda PAUD Kabupaten Lamandau

NANGA BULIK – Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TP PKK Kabupaten Lamandau terus memperjuangkan pendidikan anak usia dini agar generasi Lamandau ke depan tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing. Hal ini disampaikan Bunda PAUD Kabupaten Lamandau Norol Latifah Rizky Aditya Putra dalam suatu kegatan Bersama anak-anak usia dini di Nanga Bulik, Sabtu (27/6/2026).

Norol Latifah mengajak seluruh pemangku untuk bersama-sama mencari solusi konkret dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.

Menurut dia, upaya mencetak generasi berkualitas tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan para guru PAUD. Pernyataan itu disampaikan Norol Latifah saat membahas tantangan pendidikan anak usia dini di Kabupaten Lamandau.

Ia menegaskan, peningkatan mutu pendidikan harus berjalan seiring dengan perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik. “Anak yang berkualitas tentu lahir dari guru yang berkualitas. Karena itu kita harus bersama-sama memberikan solusi untuk kesejahteraan para guru,” ujarnya.

Menurut Norol, persoalan pendidikan tidak cukup hanya berbicara tentang kualitas peserta didik. Di balik keberhasilan pendidikan terdapat peran besar para guru yang membutuhkan dukungan, baik dari sisi kompetensi maupun kesejahteraan.

Data tahun 2025 menunjukkan Kabupaten Lamandau memiliki 155 lembaga PAUD dengan 255 tenaga pendidik yang masih menghadapi tantangan peningkatan kapasitas.

Dari jumlah tersebut, tercatat masih banyak pengajar yang berlatar belakang pendidikan SMA, sementara guru yang telah memiliki kualifikasi sarjana pendidikan masih terbatas.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi pekerjaan rumah bersama agar kualitas layanan pendidikan anak usia dini dapat terus meningkat.

Terlebih, pemerintah pusat melalui Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2013 tentang pengembangan anak usia dini holistik integratif menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak secara terpadu.

“Jadi tidak hanya berbicara soal kesejahteraan guru atau gizi anak semata, tetapi juga bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh,” kata Norol seraya menyoroti masih adanya tantangan pemerataan layanan pendidikan antara perkotaan dan pedesaan.

Ia meminta seluruh pihak memberi perhatian lebih terhadap pendidikan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) agar tidak terjadi kesenjangan kualitas pendidikan.

“Jangan ada kesenjangan pendidikn antara kota dan desa. Mari kita sama-sama menuntaskan persoalan pendidikan di wilayah 3T. Kita harus mengangkat pendidikan dari bawah agar semua anak mendapatkan kesempatan yang sama,” tegasnya. (han/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *