Feature

Awal Kehidupan Baru Orang Utan di Habitatnya

110
×

Awal Kehidupan Baru Orang Utan di Habitatnya

Sebarkan artikel ini
PELEPASLIARAN : Seekor orang utan hasil rehabilitasi keluar dari kandang transport saat pelepasliaran di Resort Tumbang Hiran, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kamis (18/6/2026) lalu.FOTO HUMAS UNTUK RADAR KALTENG

Dari Luka Kebakaran Hutan Menuju Kebebasan di Rimba Kalimantan

Suara hutan terdengar pelan di Resort Tumbang Hiran, Seksi Pengelolaan Wilayah II Kasongan, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Kamis (18/6/2026) lalu. Udara pagi yang lembap menyelimuti kawasan hutan hujan tropis itu ketika sebuah kandang transport perlahan dibuka.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

DARI dalamnya, seekor orang utan jantan tampak mengamati keadaan sejenak. Dengan gerakan hati-hati, ia keluar, memanjat batang pohon terdekat, lalu berayun menuju rimbunnya pepohonan hingga perlahan menghilang dari pandangan.

Orang utan itu bernama himba. Momen tersebut menjadi akhir dari perjalanan rehabilitasi yang panjang sekaligus awal kehidupan baru di habitat alaminya. Setelah 14 tahun menjalani perawatan dan pembelajaran, himba akhirnya kembali ke hutan, tempat yang seharusnya menjadi rumahnya sejak lahir.

Pelepasliaran himba bersama empat orang utan lainnya menjadi bagian dari upaya berkelanjutan menjaga kelestarian orang utan Kalimantan dan habitatnya. Kegiatan itu merupakan hasil kolaborasi Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, Balai TNBBBR, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), serta berbagai mitra nasional dan internasional.

Pelepasliaran kali ini tercatat sebagai pelepasliaran orang utan ke-47 yang dilakukan dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng, Palangka Raya. Sebuah angka yang menunjukkan bahwa upaya penyelamatan dan pengembalian orang utan ke habitat alaminya terus dilakukan secara konsisten.

Namun bagi himba, angka tersebut memiliki arti yang lebih dalam. Sebab, sebelum dapat menikmati kebebasan, ia harus melewati masa-masa sulit yang nyaris merenggut hidupnya.

Saat masih bayi, himba ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya mengalami luka bakar akibat kebakaran hutan yang melanda habitatnya. Di usia yang sangat muda, ia kehilangan tempat tinggal dan perlindungan induknya.

Peristiwa itu menjadi salah satu potret nyata dampak kebakaran hutan yang tidak hanya menghancurkan pepohonan, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup satwa liar.

Beruntung, himba berhasil diselamatkan dan dibawa ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. Di tempat itulah ia memulai perjalanan panjang untuk pulih.

Selama bertahun-tahun, himba tidak hanya mendapatkan perawatan medis untuk memulihkan kondisi fisiknya. Ia juga menjalani berbagai tahapan rehabilitasi agar mampu kembali hidup sebagai orang utan liar. Mulai dari mengenal pakan alami yang tersedia di hutan, belajar memanjat pohon dengan aman, membuat sarang untuk beristirahat, hingga mengasah kemampuan mencari makan dan menghindari ancaman di alam liar.

Proses itu tidak berlangsung singkat. Dibutuhkan kesabaran, pengamatan, serta pendampingan intensif dari tim rehabilitasi untuk memastikan Himba memiliki kemampuan yang cukup sebelum dilepasliarkan.

Setelah menjalani rehabilitasi selama 14 tahun, himba akhirnya dinyatakan siap untuk kembali ke habitat alaminya. Ia menunjukkan kemampuan bertahan hidup yang baik, termasuk dalam mencari pakan alami serta beradaptasi dengan lingkungan hutan.

Tak sendiri, himba dilepasliarkan bersama empat orang utan lainnya, yakni Lykke, Farida, Nett, dan Semeru.

Di antara mereka, Lykke memiliki kisah yang tak kalah panjang. Orang utan betina berusia 23 tahun itu telah menjalani rehabilitasi selama hampir 22 tahun. Ia tiba di Nyaru Menteng bersama induknya saat masih berusia sekitar satu bulan. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk belajar menjadi orang utan liar sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan kembali ke hutan.

Sementara itu, Farida, orang utan betina berusia 19 tahun asal Tumbang Samba, juga menunjukkan perkembangan yang baik selama masa pra-pelepasliaran. Kemampuannya dalam mengeksplorasi lingkungan dan beradaptasi menjadi modal penting untuk memulai kehidupan di alam liar.

Kini, kelima orang utan tersebut memulai kehidupan baru di hutan Bukit Baka Bukit Raya, salah satu kawasan konservasi penting yang menjadi habitat alami orang utan Kalimantan.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, Andi Muhammad Kadhafi, mengatakan bahwa setiap pelepasliaran orang utan merupakan bagian dari upaya bersama dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia.

“Pelepasliaran kali ini merupakan yang ke-47 bersama Yayasan BOS di Kalteng. Kami mengapresiasi sinergi dan kerja sama yang terus terjalin dalam mendukung konservasi orang utan dan habitatnya sehingga upaya pelestarian ini dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan pelepasliaran tidak hanya diukur dari jumlah orang utan yang kembali ke hutan, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk bertahan hidup dan berkembang biak secara alami sehingga populasi orang utan di alam dapat terus terjaga.

Senada dengan itu, Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, menyampaikan bahwa setiap orang utan yang kembali ke hutan membawa kisah perjuangan yang panjang.

Baginya, pelepasliaran bukanlah akhir dari proses rehabilitasi. Justru, pelepasliaran menjadi awal kehidupan baru bagi orang utan di habitat alaminya.

“Setiap orang utan yang kembali ke hutan membawa cerita perjuangan yang tidak singkat. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa melalui kolaborasi, ilmu pengetahuan, dan komitmen bersama, kita dapat menjaga masa depan orang utan dan hutan Indonesia,” ungkapnya.

Yayasan BOS juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra dan pendukung konservasi, baik dari dalam maupun luar negeri, yang selama ini berkontribusi dalam mendukung program rehabilitasi, pelepasliaran, serta pelestarian habitat orang utan.

Bagi himba, semua proses panjang itu kini telah terbayar. Setelah bertahun-tahun hidup dalam perawatan manusia, ia akhirnya kembali menjadi bagian dari rimba Kalimantan.

Di antara pepohonan tinggi Bukit Baka Bukit Raya, himba kini bebas menjelajah, mencari makan, membangun sarang, dan menjalani kehidupan sebagaimana seekor orang utan liar. Dari seekor bayi yang terluka akibat kebakaran hutan, ia telah menjelma menjadi simbol harapan bahwa alam yang rusak masih dapat dipulihkan, dan bahwa setiap makhluk hidup selalu memiliki kesempatan untuk kembali pulang. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *