Feature

Berawal dari Hobi, hingga Terus Mengais Rezeki

587
×

Berawal dari Hobi, hingga Terus Mengais Rezeki

Sebarkan artikel ini
LAYANI PEMBELI : Pemilik Celin Florist sedang melayani pembeli saat ditemui di car free day, Minggu (7/6/2026). FOTO : IFA/RADAR KALTENG

Kisah Celin Florist dan Tren Bunga yang Kian Diminati

Minggu pagi di kawasan car free day Palangka Raya selalu dipenuhi warna. Di antara deretan pedagang kuliner dan komunitas olahraga, sebuah lapak sederhana tampak semarak oleh rangkaian bunga segar yang harum. Di sanalah Cahyono Wahyu Widodo dan istrinya, Nurbaya Licia Jessica Sitorus, setia menyapa pelanggan lewat usaha mereka, Celin Florist, Minggu (7/6/2026).

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

USAHA ini tidak lahir dari rencana bisnis besar atau strategi pemasaran rumit. Semua bermula dari hobi. “Memang hobi istri saja,” ujar Cahyono Wahyu Widodo, yang akrab disapa Dodo, sambil tersenyum.

Kegemaran Cia, atau yang akrab dipanggil Cia, dalam merawat dan merangkai bunga perlahan berkembang menjadi peluang usaha yang kini membantu menopang perekonomian keluarga.

Celin Florist dirintis sejak 2022. Sejak saat itu, pasangan suami istri ini rutin membuka lapak setiap Minggu di car free day. Selain berjualan di sana, mereka juga melayani pembeli dari rumah di Jalan Sangga Buana II.

Tanpa karyawan, seluruh proses dijalankan berdua, mulai dari mengambil stok bunga, menata dagangan, hingga melayani pembeli. Bunga-bunga yang dijual didatangkan langsung dari Malang, salah satu sentra bunga di Jawa Timur.

Variasinya pun beragam. Aster menjadi salah satu andalan dengan pilihan warna putih, kuning, pink, ungu, merah, oranye, salem ceri, hingga kombinasi merah dan ungu. Selain cantik, aster tergolong tahan lama dan mudah dirawat. Dengan rutin mengganti air dan memotong miring bagian bawah tangkai, bunga ini bisa bertahan lebih dari tujuh hari.

Selain aster, tersedia pula pikok dengan tiga varian warna putih, pink fanta, dan biru atau ungu tua di mana pikok putih menjadi yang paling diminati.

Mawar hadir dalam warna merah, putih, pink, ungu, dan kuning. Ada pula sedap malam yang harum dan digemari kalangan ibu-ibu karena ketahanannya serta kemampuannya mekar hingga ke ujung batang.  Sementara itu, bunga matahari atau sunflower yang melambangkan kesetiaan juga tengah naik daun.

Di antara semua jenis bunga tersebut, aster menjadi primadona. “Yang paling banyak dicari itu aster,” ujar Dodo sambil menunjuk deretan bunga berwarna ungu dan putih.

Mawar tetap memiliki penggemar tersendiri, meski jumlahnya tidak sebanyak aster. Sementara harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 35.000. Rentang harga ini membuat Celin Florist diminati berbagai kalangan.

Anak muda kerap membeli untuk dekorasi kamar atau hadiah kecil, sementara pembeli lain memanfaatkan bunga untuk mempercantik rumah.

Fenomena ini mencerminkan tren florist yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Bunga kini tak lagi sekadar pelengkap acara formal, melainkan bagian dari gaya hidup. Banyak orang membeli bunga bukan untuk keperluan seremonial, tetapi untuk menghadirkan suasana segar dan hangat di rumah.

Cia mengungkapkan, setiap pelanggan memiliki cerita tersendiri. Ada suami yang tiba-tiba memberikan setangkai mawar kepada istrinya di depan anak-anak mereka, menghadirkan senyum bahagia bagi siapa pun yang menyaksikan.

Ada pula seorang anak yang antusias membeli bunga untuk ibunya sebagai ungkapan terima kasih.

Tak jarang, pasangan muda membeli bunga untuk mengucapkan terima kasih, selamat ulang tahun pernikahan, permintaan maaf, atau sekadar berkata “I love you”. Seorang sahabat pernah memberi kejutan bunga untuk sahabatnya.

Bahkan, lanjut Cia, ada pelanggan yang menghadiahkan bunga untuk dirinya sendiri sebagai bentuk apresiasi karena telah kuat menjalani hidup. “Setiap pelanggan yang bercerita tentang bunganya membuat saya selalu bersemangat hadir di CFD,” tutur Cia.

Dodo pun merasakan peningkatan minat masyarakat terhadap bunga. “Makin banyak,” katanya singkat.  Bahkan, ada pelanggan yang rutin datang setiap minggu. “Sudah berlangganan. Setiap seminggu sekali pasti ada yang ambil,” ujarnya.

Dalam periode tertentu, dari lapak sederhana itu mereka bisa meraih pendapatan kotor sekitar Rp 2 juta. Angka yang cukup berarti bagi usaha rumahan yang dikelola tanpa karyawan.

Keberadaan car free day menjadi ruang strategis bagi berkembangnya usaha kecil seperti Celin Florist. Interaksi langsung antara penjual dan pembeli menciptakan kedekatan tersendiri. Pelanggan dapat memilih bunga secara langsung, bahkan berbincang ringan sebelum memutuskan membeli.

Meski belum pernah mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah, pasangan ini tetap konsisten menjalankan usahanya. Dukungan teman-teman di media sosial, seperti TikTok dan Instagram, juga turut membantu promosi usaha mereka.

Bagi Dodo dan Cia, keberlanjutan usaha lebih penting daripada sorotan. Hobi yang dirawat dengan tekun telah menjelma menjadi sumber penghasilan.

Di tengah hiruk-pikuk kota, lapak Celin Florist menawarkan sesuatu yang sederhana namun bermakna, keindahan yang bisa dibawa pulang.

Setangkai aster mungkin tampak biasa, tetapi di tangan pembelinya, ia bisa menjadi penghias ruang tamu yang menghadirkan suasana hangat di rumah. Dari hobi sederhana, rezeki itu kini terus mekar setiap Minggu pagi, di antara langkah-langkah santai warga Palangka Raya. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *