PALANGKA RAYA – Misteri panjangnya antrean Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Palangka Raya akhirnya menemukan titik terang. Dalam rapat antara Pemerintah Kota, PT Pertamina Patra Niaga, dan perwakilan SPBU, Jumat (8/5), terungkap adanya pemangkasan pasokan yang diduga menjadi pemicu utama krisis di lapangan.
Selama ini, Palangka Raya secara konsisten menerima suplai sekitar 190 kiloliter (KL) BBM per hari. Namun secara tiba-tiba, distribusi tersebut anjlok menjadi hanya 150 KL pada periode 1–5 Mei. Bahkan dalam dua hari terakhir, pasokan hanya naik tipis ke angka 170 KL, masih jauh dari kebutuhan normal masyarakat.
Fakta ini mencuat setelah pihak kejaksaan mempertanyakan kejanggalan distribusi. Kajari Palangka Raya, Yunardi, secara langsung mencecar penyebab tersendatnya suplai yang berujung antrean panjang di berbagai SPBU.
“Normalnya di angka 200 KL, tapi yang terjadi justru penurunan suplai,” tegasnya.
Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, dalam forum tersebut mendesak agar kuota BBM ditingkatkan secara permanen, bukan hanya saat kondisi darurat. Ia menilai kebutuhan riil kota mencapai sekitar 205 KL per hari.
“Kalau bisa ditambah, jangan hanya saat darurat. Normalnya Palangka Raya butuh 205 KL. Awal Mei kita hanya dapat 150 KL, lalu dua hari terakhir 170 KL,” ujarnya.
Rapat yang juga dihadiri aparat kepolisian ini menghasilkan komitmen tegas: jika kesepakatan distribusi tidak dijalankan sebagaimana mestinya, maka aparat penegak hukum siap turun tangan melakukan penyelidikan dan menindak pihak-pihak yang melanggar aturan.
Dengan terkuaknya fakta pemangkasan suplai ini, publik kini menanti langkah konkret agar krisis BBM tidak kembali memicu kepanikan dan antrean panjang di kota tersebut. (rdo)












