DPRD Kalimantan Tengah

BTS di Kobar Tak Berfungsi, Akses Internet Blank

165
×

BTS di Kobar Tak Berfungsi, Akses Internet Blank

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua I DPRD Kalimantan Tengah, Riska Agustin.

PALANGKA RAYA – Tower Base Transceiver Station (BTS) di daerah Kumai Kabupaten Kotawaringin Timur (Kobar) dikabarkan tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Akibatnya sejumlah desa di Kumai tidak bisa mengakses internet (blank spot).

Masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Kumai mengakui kecewa karena sejak di bangun tiang BTS di wilayahnya, hingga kini tidak berfungsi. Warga pun mengalami kesulitan untuk mendapatkan sinyal seluler.

Seperti diketahui pemerintah pusat melalui Kementrian Informasi Komunikasi (Kominfo) yang kini berubah menjadi Digital (Komdigi) meluncurkan program jaringan internet sampai ke desa-desa. Sebagai tindak lanjut, pemerintah melalui Bakti Komdigi membangun Tower BTS di sejumlah desa sebagai sarana untuk mengakses internet.

Sayangnya tower BTS di sejumlah desa  wilayah Kobar, Sukamara dan Lamandau tidak berfungsi. Harapan masyarakat untuk bisa menikmati akses internet masih belum terpenuhi. Warga berharap agar pemerintah melalui intansi terkait segera memperbaikinya.

Wakil Ketua I DPRD Kalimantan Tengah, Riska Agustin membenarkan di daerah pemilihan (Dapil) Kobar, Sukamara, dan Lamandau masih ada sejumlah desa yang terkendala akses internet. Hal ini disebabkan tower BTS yang dibangun kementrian masih belum berfungsi.

“Kira-kira 3 atau 4 tahun ini ada sejumlah desa yang sulit menangkap sinyal internat. Meskipun kementrian sudah membantu membangun Tower BTS, tapi BTS nya masih tidak bisa berfunsgi,” kata Riska belum lama ini.

Wakil Ketua DPRD Kalteng ini mengaku akan segera menindaklanjuti dengan Dinas Kominfo Kalteng agar dicarikan solusinya. Terutama tiang-tiang BTS yang sudah dibangun pemerintah dioperasikan dan memberikan manfaat kepamas masyarakat.

Riska mengakui sempat tersedia alternatif jaringan melalui Starlink (Internet Satelit) yang cukup membantu masyarakat untuk memperoleh jaringan internet. Hanya saja biaya yang dikeluarkan untuk layanan tersebut dinilai cukup mahal dan memberatkan masyarakat. “Masyarakat tetap berharap adanya subsidi dari pemerintah. Karena starlin biatanya mahal,” pintanya. (sep/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *