Kotawaringin Timur

Kotim Terancam Defisit Hewan Kurban

97
×

Kotim Terancam Defisit Hewan Kurban

Sebarkan artikel ini
UNTUK KURBAN : Sapi yang dijual peternak di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur untuk kebutuhan kurban pada Hari Raya Idul Adha tahun lalu. DOKUMEN APRI/RADAR KALTENG

Harga Diprediksi Naik Hingga 20 Persen

SAMPIT – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, kebutuhan hewan kurban di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dipastikan meningkat tajam. Namun di tengah tingginya antusiasme masyarakat, ketersediaan ternak justru belum mampu mengimbangi permintaan di pasaran.

‎‎Berdasarkan data sementara dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, kebutuhan sapi tahun ini diperkirakan mencapai 1.114 ekor. Dari jumlah tersebut, masih terdapat kekurangan sekitar 651 ekor. Sementara untuk kambing, kebutuhan mencapai 448 ekor dengan defisit sekitar 303 ekor.

‎Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim Yephi Hartady Periyanto mengungkapkan, angka tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah mengikuti kondisi di lapangan. “Data ini kami himpun dari para pengepul. Perkembangannya akan terus kami pantau untuk melihat apakah kebutuhan tersebut bisa terpenuhi,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

‎Di sisi lain, pemerintah daerah mulai mengantisipasi lonjakan aktivitas jual beli hewan kurban dengan memperketat pengawasan. Pemeriksaan kesehatan hewan dijadwalkan mulai dilakukan paling lambat dua minggu sebelum hari raya.

Menurut Yephi, pengawasan akan difokuskan di titik-titik penjualan seiring masuknya hewan kurban dari luar daerah. “Setiap hewan yang masuk akan diperiksa kesehatannya. Ini penting untuk memastikan hewan yang dijual benar-benar layak untuk dikurbankan,” jelasnya.

‎Sebagai bentuk jaminan kepada masyarakat, hewan yang telah dinyatakan sehat dan memenuhi syarat akan diberi tanda khusus dari dinas terkait.

‎Lonjakan permintaan juga turut berdampak pada harga. Tahun ini, harga hewan kurban diprediksi mengalami kenaikan sekitar 15 hingga 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

‎Meski demikian, Yephi memastikan kenaikan tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap harga daging di pasaran. “Kenaikan terjadi pada harga ternak. Sementara daging kurban tidak diperjualbelikan secara umum seperti di pasar, sehingga pengaruhnya terhadap harga daging relatif kecil,” pungkasnya. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *