Utama

Remaja Terpikat Vape, Dinkes Ingatkan Ancaman Kesehatan

279
×

Remaja Terpikat Vape, Dinkes Ingatkan Ancaman Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Nugroho Kuncoro Yudho.

‎‎SAMPIT – Kepulan asap tipis dengan aroma beragam rasa kini kian akrab di sudut-sudut tongkrongan anak muda di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Rokok elektronik atau vape tak lagi sekadar tren, tapi mulai menjadi gaya hidup di kalangan remaja. Di balik popularitasnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim mengingatkan adanya ancaman kesehatan yang tidak bisa diabaikan.

‎Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Nugroho Kuncoro Yudho menegaskan, anggapan vape lebih aman dibanding rokok konvensional merupakan persepsi yang keliru.‎ “Rokok elektronik tetap memiliki dampak terhadap kesehatan, terutama pada paru-paru dan jantung. Sama halnya dengan rokok biasa,” ujar Nugroho, Senin (20/4/2026).

‎Fenomena meningkatnya penggunaan vape di kalangan remaja, menurutnya, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari desain perangkat yang modern, pilihan rasa yang beragam, hingga citra yang dianggap lebih “ringan” dibanding rokok tembakau. Bahkan tren ini tidak hanya didominasi remaja laki-laki, tetapi juga mulai menjangkau remaja perempuan.

‎Daya tarik itulah yang membuat vape cepat diterima. Tanpa banyak mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Padahal di balik sensasi uap yang wangi, tersimpan risiko kesehatan yang cukup serius.

‎Nugroho menjelaskan, penggunaan vape dapat memicu berbagai gangguan pernapasan seperti batuk kronis, sesak napas, serta iritasi saluran napas. Risiko infeksi seperti ISPA dan pneumonia juga meningkat, terutama bagi pengguna aktif dalam jangka waktu lama. ‎“Dalam jangka panjang, vape bisa menyebabkan peradangan paru, penurunan fungsi paru, bahkan cedera paru,” jelasnya.

‎Tak hanya itu, dampaknya juga merambah sistem kardiovaskular serta berpotensi menimbulkan ketergantungan nikotin. Kandungan dalam aerosol vape pun tidak sepenuhnya aman, karena dapat mengandung logam berat dan senyawa kimia berbahaya yang merusak jaringan tubuh. ‎“Paparan zat kimia ini berisiko menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk kemungkinan penumpukan cairan di paru-paru,” tambahnya.

‎‎Meski belum ada data spesifik terkait kasus penyakit akibat vape di Kotim, Dinkes menilai hal tersebut bukan berarti risiko tidak ada. Pencatatan penyakit yang masih bersifat umum membuat keterkaitan dengan penggunaan vape belum teridentifikasi secara rinci.

‎Melihat tren yang terus meningkat, Dinkes Kotim mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih bijak dalam menyikapi gaya hidup tersebut dan tidak mudah terpengaruh anggapan yang menyesatkan. “Jangan menganggap vape itu aman. Risiko jangka panjangnya nyata dan perlu diwaspadai sejak dini,” tandas Nugroho.

‎‎Di tengah maraknya penggunaan vape, peringatan ini menjadi pengingat bahwa tidak semua yang terlihat modern dan menarik benar-benar bebas dari bahaya. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *