Feature

Belajar Jadi Pahlawan, Melatih Siaga Sejak Dini

456
×

Belajar Jadi Pahlawan, Melatih Siaga Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
SEMANGAT : Petugas Disdamkarmat Kotim saat memberikan kesempatan anak-anak TK Pertiwi I Sampit untuk merasakan langsung semprotan air peralatan pemadam, Jumat (17/4/2026). ‎APRI/RADAR KALTENG

Ketika Anak TK Pertiwi I Kunjungi Markas Damkar Kotim

‎‎Pagi itu, Jumat (17/4/2026), halaman Markas Komando Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tak seperti biasanya. Bukan sirene yang mendominasi, melainkan tawa riang anak-anak yang berlarian kecil. Mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu.

‎‎‎SINDY APRIANSYAH, Sampit

‎DI bawah langit cerah, sebanyak 14 anak dari TK Pertiwi I Sampit datang membawa satu misi sederhana. Yakni mengenal para pahlawan tanpa tanda jasa yang sehari-hari berjibaku dengan api.

‎Dengan seragam kecil mereka yang rapi, anak-anak itu tampak tak sabar mengikuti setiap arahan. Didampingi dua guru, mereka melangkah masuk ke area markas, disambut hangat para petugas. Bagi sebagian dari mereka, ini mungkin kali pertama melihat mobil pemadam dari jarak sedekat itu besar, merah, dan tampak gagah.

‎Perlahan, rasa penasaran mereka terjawab. Petugas mulai memperkenalkan tugas pokok dan fungsi Disdamkarmat. Mulai dari memadamkan kobaran api hingga melakukan penyelamatan dalam berbagai situasi darurat. Bahasa yang digunakan sederhana. Disesuaikan dengan dunia anak-anak, namun sarat makna.

‎Tak hanya mendengar, mereka juga diajak melihat langsung peralatan yang biasa digunakan petugas di lapangan. Helm, baju tahan panas, hingga selang air berukuran besar menjadi objek yang memancing decak kagum. Bagi anak-anak itu, semua tampak seperti bagian dari petualangan baru yang seru.

‎Kepala Disdamkarmat Kotim Akhmad Taufik menilai, kegiatan seperti ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ada nilai penting yang ingin ditanamkan sejak dini.‎ “Melalui kegiatan ini, anak-anak bisa mengenal tugas pemadam kebakaran, sekaligus belajar tentang bahaya api dan bagaimana bersikap saat terjadi kebakaran,” ujar Taufik.

‎‎Puncak keseruan terjadi saat simulasi pemadaman kebakaran dimulai. Anak-anak berdiri berjajar, menyaksikan dengan penuh takjub bagaimana petugas mengendalikan selang air bertekanan tinggi untuk menjinakkan api. Sorak kecil terdengar ketika kobaran itu perlahan padam.

‎Namun momen yang paling dinanti justru datang setelahnya. Saat sesi bermain air dibuka, suasana berubah menjadi semakin meriah. Tawa pecah tanpa bisa ditahan ketika mereka merasakan percikan air dari peralatan pemadam. Di bawah pengawasan petugas, anak-anak itu bebas bermain, seolah halaman markas berubah menjadi taman bermain yang menyenangkan.

‎Di balik keceriaan itu, terselip pelajaran berharga. Anak-anak tidak hanya pulang dengan pengalaman menyenangkan, tetapi juga membawa pemahaman awal tentang pentingnya keselamatan dan kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran.

‎Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. Wajah-wajah kecil itu masih menyisakan senyum lebar, sementara para petugas berdiri di belakang mereka, menjadi bagian dari kenangan yang mungkin akan diingat hingga mereka dewasa.

‎Taufik berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan. Baginya, menanamkan kesadaran sejak usia dini adalah langkah penting dalam membangun masyarakat yang tanggap dan peduli terhadap keselamatan. “Edukasi seperti ini penting agar mereka tidak hanya tahu, tetapi juga memiliki keberanian dan kesiapsiagaan sejak usia dini,” tandasnya.

‎Di hari itu, markas pemadam kebakaran bukan hanya tempat bertugas, tetapi juga ruang belajar yang hangat tempat di mana keberanian, pengetahuan, dan keceriaan bertemu dalam satu cerita sederhana yang penuh makna. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *