Kotawaringin Timur

Harga BBM Naik, Waspadai Dampak ke Ekonomi Daerah

175
×

Harga BBM Naik, Waspadai Dampak ke Ekonomi Daerah

Sebarkan artikel ini
WAWANCARA : Penjabat Sekretaris Daerah Kotawaringin Timur Umar Kaderi saat diwawancara awak media, beberapa waktu lalu. APRI/RADAR KALTENG

SAMPIT – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali mengguncang stabilitas ekonomi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Pemerintah daerah kini bergerak cepat menyusun langkah antisipatif guna menekan dampak berantai yang mulai terasa di tengah masyarakat.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kotim Umar Kaderi menegaskan, fluktuasi harga BBM bukan sekadar isu energi. Tetapi memiliki efek domino yang langsung menyentuh kehidupan warga sehari-hari. Mulai dari ongkos transportasi hingga harga kebutuhan pokok, semuanya berpotensi ikut terdorong naik.

“Setiap kali BBM naik, hampir pasti diikuti kenaikan biaya distribusi dan harga barang. Ini yang sedang kami cermati karena dampaknya luas terhadap ekonomi daerah,” katanya, Sabtu (18/4/2026).

Menurut Umar, kondisi tersebut memaksa pemerintah daerah untuk meninjau ulang berbagai rencana pembangunan yang telah disusun sebelumnya. Perubahan harga di lapangan membuat asumsi anggaran tidak lagi relevan, sehingga perlu dilakukan penyesuaian agar program tetap berjalan efektif.

“Perencanaan yang sudah ada harus kita evaluasi ulang. Dengan situasi harga yang berubah, tentu struktur anggaran juga harus disesuaikan,” jelasnya.

Ia menyoroti sektor distribusi sebagai titik paling rentan terdampak. Kenaikan harga BBM otomatis meningkatkan ongkos kirim, terutama untuk komoditas yang didatangkan dari luar daerah. Akibatnya, harga barang yang diterima masyarakat ikut mengalami kenaikan.

“Barang dari luar daerah paling terasa dampaknya. Biaya logistik naik, tenaga kerja juga ikut terdampak, sehingga harga jual di tingkat konsumen ikut berubah,” katanya.

Meski demikian, pemerintah daerah berharap lonjakan harga tidak melampaui batas kewajaran. Stabilitas pasokan juga menjadi fokus utama agar tidak terjadi kelangkaan yang bisa memperparah situasi.

“Kami berharap kenaikannya masih terkendali dan distribusi barang tetap lancar, sehingga masyarakat tidak terbebani secara berlebihan,” tegas Umar.

Sebagai langkah konkret, Pemkab Kotim mulai menerapkan kebijakan efisiensi anggaran, salah satunya dengan membatasi perjalanan dinas di lingkungan perangkat daerah. Upaya ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan fiskal di tengah tekanan ekonomi.

Tak hanya itu, sektor produktif seperti perikanan dan pertanian juga menjadi perhatian serius. Ketersediaan BBM dinilai krusial untuk menunjang aktivitas nelayan dan petani yang bergantung pada distribusi energi.

“Kalau pasokan BBM terganggu, nelayan bisa kesulitan melaut. Dampaknya akan berlanjut ke pasokan ikan dan harga di pasar,” ujarnya.

Pemkab Kotim pun berharap kondisi harga energi dapat segera stabil, sehingga tekanan terhadap ekonomi masyarakat tidak berkepanjangan. Langkah-langkah penyesuaian yang dilakukan saat ini juga diharapkan mampu menjaga daya beli warga sekaligus memastikan roda ekonomi daerah tetap bergerak. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *