SAMPIT – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diperkirakan akan menghadapi musim kemarau dini atau lebih awal sekaligus lebih panjang tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai dampak. Mulai kekeringan hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit memprediksi, kemarau mulai terjadi sejak awal Juni 2026 dan berlangsung hingga sekitar September, dengan durasi mencapai 120 hari.
Kepala BMKG H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo mengungkapkan, peralihan musim tidak terjadi secara serentak. Tapi bertahap di setiap wilayah. Wilayah utara Kotim menjadi daerah pertama yang memasuki kemarau. Disusul wilayah tengah, kemudian bagian selatan.
“Awal kemarau di wilayah utara diperkirakan mulai dasarian pertama Juni. Selanjutnya wilayah tengah sekitar dasarian kedua, dan wilayah selatan seperti Teluk Sampit serta Pulau Hanaut pada dasarian ketiga,” jelasnya, Kamis (9/4/2026).
Menurut dia, durasi kemarau tahun ini tergolong lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Puncak musim kering diprediksi terjadi pada Agustus, saat curah hujan berada pada titik terendah.
Selain faktor musim, BMKG juga mendeteksi adanya pengaruh fenomena el nino dengan intensitas lemah hingga moderat. Meski tidak tergolong kuat, fenomena tersebut tetap dapat memperparah kondisi kekeringan dan meningkatkan potensi karhutla di wilayah Kotim.
“Walaupun tidak kuat, dampaknya tetap harus diwaspadai. Terutama terhadap risiko kebakaran lahan dan berkurangnya ketersediaan air,” tambahnya.
Menghadapi situasi tersebut, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Salah satu langkah penting adalah tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Mengingat kondisi kering akan memudahkan api menyebar.
Selain itu, warga juga diminta menggunakan air bersih secara bijak guna mengantisipasi kemungkinan kekurangan pasokan. Di sisi lain, perubahan cuaca ekstrem juga dapat berdampak pada kesehatan, sehingga masyarakat diharapkan tetap menjaga kondisi tubuh.
“Tidak membakar lahan, hemat penggunaan air, serta menjaga kesehatan menjadi hal utama yang perlu diperhatikan selama musim kemarau,” tandasnya. (pri/ens)












