Kotawaringin Timur

Siaga 185 Hari, Dinkes Kotim Antisipasi Dampak Kemarau

182
×

Siaga 185 Hari, Dinkes Kotim Antisipasi Dampak Kemarau

Sebarkan artikel ini
Kabid P2P Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho. foto: ist

‎‎SAMPIT – Ancaman musim kemarau panjang di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tak hanya berdampak pada lingkungan. Tetapi juga berpotensi memicu peningkatan kasus penyakit di masyarakat. Mengantisipasi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim bergerak cepat dengan menyiapkan berbagai langkah strategis.
‎Pemerintah Kabupaten Kotim sendiri telah menetapkan status siaga darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan selama 185 hari, terhitung sejak 8 April hingga 10 Oktober 2026. Status ini menjadi dasar bagi seluruh instansi, termasuk sektor kesehatan, untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
‎Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho menegaskan, pihaknya telah mempersiapkan tenaga kesehatan hingga logistik guna menghadapi potensi lonjakan penyakit.‎ “Tenaga kesehatan dan logistik sudah kami siapkan. Terutama untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang biasanya memicu peningkatan kasus penyakit,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
‎Ia menjelaskan, keterbatasan air bersih saat kemarau berisiko menurunkan kualitas sanitasi, sehingga memicu munculnya penyakit berbasis lingkungan. Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai antara lain diare, kolera, disentri, hingga tifus.
‎Di sisi lain, potensi karhutla juga membawa ancaman tersendiri. Kabut asap yang ditimbulkan dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan kasus gangguan pernapasan seperti ISPA, asma, hingga pneumonia.
“Jika terjadi kabut asap, kami mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar, rajin mencuci tangan, serta menjaga asupan gizi agar daya tahan tubuh tetap kuat,” jelasnya.
‎Dari sisi logistik, Nugroho memastikan sebagian besar kebutuhan masih dalam kondisi aman. Stok masker dan obat-obatan, termasuk zinc untuk penanganan diare, tersedia. Namun, untuk persediaan oralit masih dalam tahap pengajuan tambahan ke pemerintah provinsi. “Masker cukup, zinc tersedia, hanya oralit yang masih kurang dan sudah kami ajukan penambahannya,” tambahnya.
‎Dinkes juga memastikan kesiapan menghadapi skenario terburuk, yakni lonjakan kasus hingga tiga kali lipat dari kondisi normal. “Dukungan layanan kesehatan telah disiapkan melalui 21 puskesmas dan tiga rumah sakit yang tersebar di wilayah Kotim,” tuturnya.
‎Dengan kesiapan tersebut, diharapkan dampak kesehatan akibat kemarau panjang dapat ditekan semaksimal mungkin. Masyarakat pun diminta proaktif melaporkan jika mengalami gejala penyakit, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. (pri/ens)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *