Melihat Usaha Baru di Ruang Publik
Suasana car free day (CFD) di Kota Cantik Palangka Raya pagi itu terasa lebih hidup. Tawa anak-anak berpadu dengan langkah santai warga yang menikmati akhir pekan. Di salah satu sudut keramaian, sebuah stan sederhana menarik perhatian. Di sanalah Helma, pelaku seni “SimeiArt” lukis wajah, memulai langkah barunya di dunia face painting.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
FACE painting sendiri merupakan seni melukis di wajah menggunakan cat khusus berbahan dasar air yang aman untuk kulit. Seni ini kerap dijumpai dalam berbagai acara seperti festival, pesta ulang tahun, hingga ruang publik seperti car free day. Selain mempercantik tampilan, face painting juga menjadi media ekspresi dan hiburan, terutama bagi anak-anak yang ingin tampil dengan karakter atau motif favorit mereka.
Bagi Helma, dunia seni lukis tubuh bukan hal yang benar-benar baru. Sebelum menekuni face painting, ia lebih dulu dikenal sebagai henna art. “Sebelumnya saya memang di henna,” ujarnya. Pengalaman itu menjadi bekal penting ketika ia memutuskan mencoba medium baru wajah sebagai kanvas.
Keahliannya pun tidak diperoleh melalui pelatihan formal. Helma belajar secara otodidak dengan memanfaatkan teknologi. “Banyak belajar dari YouTube,” katanya singkat, Minggu (5/4/2026).
Tahun 2026 menjadi titik awalnya membuka stan face painting secara langsung di car free day. Ini merupakan pengalaman perdananya terjun langsung menawarkan jasa lukis wajah ke masyarakat. “Ini perdana banget,” ungkapnya.
Stan kecilnya langsung diserbu anak-anak yang penasaran ingin mencoba. Dalam waktu singkat, ia sudah melayani lebih dari sepuluh anak. “Ini baru pertama, sudah sepuluh anak lebih,” katanya.
Dengan waktu pengerjaan sekitar 5 hingga 10 menit per wajah, Helma menawarkan berbagai pilihan motif dengan harga terjangkau. “Harganya dari Rp 15.000 sampai Rp 25.000, tergantung model,” jelasnya.
Ia juga memastikan bahan yang digunakan aman, khusus untuk wajah, dan berbasis air. “Ini cat air, memang khusus untuk face painting,” ujarnya.
Karena itu, target utamanya adalah anak-anak, meski remaja hingga orang dewasa juga bisa dilayani. “Anak-anak, tapi dewasa juga ada, remaja-remaja,” tambahnya.
Meski terlihat menyenangkan, melukis wajah anak-anak memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah kondisi cuaca panas yang membuat anak mudah berkeringat. “Kalau anaknya keringetan, bisa memengaruhi hasilnya,” katanya.
Untuk saat ini, Helma masih fokus membuka jasa di car free day. Ia belum memperluas layanan ke acara lain seperti ulang tahun atau event. “Belum, karena ini masih baru,” ujarnya.
Meski demikian, respons masyarakat cukup positif. Antusiasme anak-anak menjadi semangat tersendiri bagi Helma untuk terus mengembangkan usahanya. Dari pengalaman sebagai perajin henna hingga kini merintis face painting, dia membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari mana saja.
Di tangan Helma, wajah-wajah polos anak-anak berubah menjadi kanvas penuh warna menjadikan car free day Palangka Raya tak hanya sehat, tetapi juga penuh keceriaan. (ifa/ens)












