Feature

Makam yang Ramai, Bunga yang Semarak

371
×

Makam yang Ramai, Bunga yang Semarak

Sebarkan artikel ini
ZIARAH : Sebagian warga Palangka Raya ziarah ke makam kerabat atau keluarga saat merayakan Paskah 2026. Sementara penjual bunga juga marak di sekitar pemakaman. FOTO HUMAS MEDIA CENTER

Tradisi Ziarah Paskah di Palangka Raya

Hari masih pagi ketika jalan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kristen, Jalan Tjilik Riwut Km 12, Palangka Raya, mulai dipenuhi kendaraan dan pejalan kaki yang membawa bunga, lilin, dan perlengkapan ziarah lainnya. Aroma bunga segar bercampur harum dupa dan lilin yang mulai dibakar menandai awal perayaan Paskah 2026 di kota ini.

SITI NUR MARIFA, Palangka Raya

DI tengah cuaca yang cerah, ratusan peziarah dari berbagai penjuru Palangka Raya datang silih berganti. Mereka tidak hanya membersihkan makam orang-orang tercinta, tetapi juga duduk sejenak untuk berdoa, menyalakan lilin, dan menaburkan bunga di atas pusara kaum kerabat yang sudah meninggal dunia.

Suasana khusyuk bercampur dengan hangatnya kebersamaan keluarga. Ada yang berbincang pelan sambil tertawa ringan, ada pula yang meneteskan air mata haru mengenang almarhum.

Tradisi ini, menurut warga setempat, sudah berlangsung turun-temurun. “Setiap Paskah, ziarah ke makam menjadi momen penting untuk mengenang keluarga dan juga mempererat tali persaudaraan,” kata Kristiani, salah satu warga yang berkunjung ke TPU Kristen Pal 12.

Selain keramaian peziarah, perhatian juga tertuju pada pedagang musiman yang menggelar lapaknya di sepanjang jalan menuju TPU. Lapak-lapak sederhana itu dipenuhi bunga segar, lilin dengan berbagai ukuran, dan perlengkapan ziarah lain seperti vas mini, lilin hias, dan pernak-pernik keagamaan.

Ida, salah seorang pedagang bunga, tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. “Bunga, lilin, dan perlengkapan ziarah selalu laris manis saat Paskah. Ini sudah tradisi saya setiap tahun,” ujarnya sambil menata bunga hias di rak.

Beragam bunga ditawarkan di lapaknya, mulai dari bunga hidup yang harum hingga bunga hias yang tahan lama. Harga pun bervariasi, mulai dari Rp 20 ribu untuk bunga kecil hingga Rp 100 ribu untuk rangkaian bunga besar. Lilin ziarah pun ada berbagai ukuran, mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 60 ribu per batang.  “Kalau Paskah, dagangan selalu habis, peziarah memang mempersiapkan semuanya,” tambah Ida dengan senyum ramah.

Keramaian ini tidak hanya menghadirkan nuansa religius, tetapi juga kehidupan ekonomi tersendiri bagi para pedagang musiman. Jalanan yang menuju TPU dipenuhi aktivitas jual-beli, dari percakapan ringan hingga tawar-menawar harga bunga dan lilin. Suasana ini memberi warna tersendiri bagi tradisi yang bersifat spiritual ini.

Bagi banyak keluarga, ziarah Paskah bukan sekadar ritual, tetapi momen untuk mengenang orang yang dicintai, mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menghormati leluhur, sekaligus merasakan kebersamaan komunitas.

Sementara bagi pedagang, ini adalah kesempatan untuk menjalankan usaha musiman yang selalu dinantikan setiap tahunnya.

Saat matahari mulai meninggi, TPU Kristen Tjilik Riwut tetap dipenuhi peziarah yang datang silih berganti. Suasana yang ramai namun tetap khusyuk ini menjadi cerminan bagaimana tradisi, keimanan, dan kehidupan sosial berjalan berdampingan, saling melengkapi satu sama lain.

Paskah di Palangka Raya, melalui tradisi ziarah di TPU, bukan hanya tentang mengenang yang telah tiada. Ini adalah perayaan kehidupan, pengingat akan kasih sayang keluarga, dan bukti bahwa tradisi dapat menghadirkan harmoni antara keimanan, budaya, dan kehidupan sehari-hari. (ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *