PALANGKA RAYA – Kehidupan warga transmigrasi di Kalteng masih menghadapi berbagai kendala yang cukup serius. Salah satunya sarana dan prasarana pertanian atau sering disebut jalan usaha tani masih belum mendukung.
Dampak dari jalan usaha tani yang rusak itu mengakibatkan harga hasil pertanian terutama sawit dan karet serta komoditi lainya tidak standar di pasaran. Karena terlalu banyaknya biasa angkut yang dikeluarkan petani.
“Akibatnya upah angkut jadi mahal karena mobil tidak bisa masuk lahan pertanian. Kalau pembeli mengambil langsung sendiri ke kebun, harganya pasti akan turun,” kata Suyanto saat ditemui Koran ini usai acara berbuka puasa keluarga besar Perhimpunan Anak Transmigrasi Indonesia (Patri Kalteng) Kamis (5/3/2026).
Selain jalan usaha tani, warga transmigrasi juga masih menghadapi tantangan lainnya. Yakni soal legalitas lahan transmigran. Hingga masih ada ribuan lahan pekarangan maun lahan garapan yang tidak memiliki sertifikat. Meskipun warga transmigrasi itu sudah tinggal di daerah itu belasan tahun.
Ia mencontohkan lahan garapan di Pangkoh 3 blok C dan D masih belum memiliki sertifikat tanah. Padahal mereka mulai tinggal di daerah itu sejak tahun 1982. Tidak adanya legalitas tanah garapan tersebut banyak warga transmigran yang merasa was-was tanahnya akan dicaplok perusahaan sawit.
“Soal legalitas kepemilikan tanah dan jalan usaha tani ini tidak akan selesai tanpa turun tangan dari pemerintah daerah dan pusat. Bahkan menjadi program Kementrian Transmigrasi,” katanya lagi.
Acara buka puasa Patri Kalteng juga dihadiri tokoh masyarakat Ir. H Abdul Razak, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalteng, sesepuh warga transmigrasi dan sejumlah komunitas dan paguyuban yang ada di Palangka Raya.
Abdul Razak ketika memberikan sepatah kata meungkapkan bahwa kehadiranya warga transmigrasi di Kalteng ini selain karena program pemerintah pusat juga karena Kalteng masih kekurangan penduduk dibanding dengan wilayah Kalteng yang cukup luas.”Jadi warga transmigrasi ini juga warga Kalteng. Karena itu mari bersama-sama membangun Kalteng denga Falsafah Huma Betang,” pesan mantan Bupati Kotawaringin Barat. (rdi)












