FeatureUtama

Disiksa, Dibunuh, Dihanyutkan ke Sungai

508
×

Disiksa, Dibunuh, Dihanyutkan ke Sungai

Sebarkan artikel ini
Disiksa, Dibunuh, Dihanyutkan ke Sungai
LUBANG JEPANG: Untuk memasuki Lubang Jepang harus melalui terowongan dengan 142 anak tangga. Lubang Jepang dibangun Jepang dengan melibatkan tenaga romusha. FOTO DOKUMEN PRIBADI

Mengunjungi Bunker Peninggalan Jepang di Bukit Tinggi (2)

Pekerja romusha tidak hanya dipaksa untuk bekerja tanpa upah. Mereka juga disiksa. Bahkan dibunuh dan hanyutkan ke sungai oleh tentara Jepang di masa perang dunia kedua.

Suyanto, PALANGKA RAYA

PARA buruh atau pekerja romusha yang didatangkan dari Kalimantan, Sulawesi dan Jawa mendapat perlakuan kasar oleh tentara Jepang pada masa peperangan. Ribuan romusha yang dipaksa untuk membuat bunker sering disiksa jika bekerjanya tidak keras. Apalagi romusha yang mencoba untuk melawan pasti akan mendapatkan siksaan yang lebih kejam lagi.

Penduduk pribumi itu memang tidak bisa bekerja secara maksimal. Mereka kecapaian dan lemas, karena tidak diberi makan dan minum. Kalaupun diberi makan, itu pun hanya ala kadarnya. Jauh dari kandungan gizinya. Makan hanya sekadar untuk mengganjal perut.

Kabur? Jauh dari tidak mungkin. Pintu-pintu bunker dijaga ketat tentara Jepang dengan senjata lengkap. Pintu akses ke luar hanya ada satu. Pintu masuknya pun hanya satu. Ada lubang lain. Tapi fungsi untuk mengintai musuh dan untuk membuang mayat.

Di dalam terowongan itu memang ada satu ruangan khusus. Yang fungsinya multiguna. Selain sebagai dapur romusha, ruangan itu juga untuk tempat penyiksaan pekerja pribumi. Penjajah Jepang pun tidak segan-segan membunuh para romusha yang mencoba melawan dan bekerja yang tidak maksimal.

“Di ruangan itu selain untuk dapur, juga tempat menyiksa para pekerja romusha. Saat pertama kali ditemukan masih kecium bau anyer darah. Di dinding juga masih terlihat bekas-bekas darahnya,” kata Hendra, pemandu wisata Lubang Jepang Bukit Tinggi, Provinsi Sumatera Barat, belum lama ini.

Untuk menghilangkan bau anyer itu, pemerintah setempat sengaja membuat tembok semua dinding di ruangan itu. Ketika wartawan koran ini memasuki ruang penyiksaan itu, terlihat jelas tembok untuk menutupi semua dinding ruangan agar bau anyer tidak tercium lagi.

Di ruang dapur itu juga terdapat lubang yang terhubung langsung dengan sungai di balik bukit. Juga terdapat lubang yang digali ke atas tembus ke alam bebas. Lubang yang terhubung ke sungai itu, ternyata fungsinya untuk membuang mayat pekerja setelah disiksa dan dibunuh tentara Jepang.

“Masyarakat yang menemukan mayat yang hanyut di sungai, tidak mengenali wajah dan tubunya karena penuh luka siksaan. Masyarakat tidak akan mengetahui siapa identitas mayat itu,” kata Hendra.

Sedangkan lubang yang digali ke atas tembus ke alam bebas, fungsinya untuk mengintai musuh yang lewat di sekitar bunker. Lubang itu dibikin tangga sampai ke atas untuk memudahkan tentara Jepang ke luar masuk lubang.

Lubang itu juga berfungsi untuk mengintai penduduk, terutama petani yang lewat di sekitar bunker. Petani yang membawa sayur mayur untuk dijual ke pasar, dirampas oleh tentara Jepang untuk kebutuhan sehari-hari di dalam bunker.

Sampai saat ini tidak banyak ditemukan tentang berapa banyak penduduk pribumi yang dijadikan romusha oleh tentara Jepang kala itu. Namun saat ditemukan pertama kali tahun 1945, di dalam bunker itu banyak tulang belulang manusia. Saat ini tulang belulang itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bukit Tinggi. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *