Penemuan Terbaru Paling Banyak dari Kelompok LSL
PALANGKA RAYA – Kota Palangka Raya mencatatkan diri sebagai wilayah dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Data tahun 2025, Kota Palangka Raya menyumbang angka paling besar dengan 144 kasus HIV positif. Sementara penemuan Orang Dengan HIV (ODHIV) baru paling banyak berasal dari kelompok risiko Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Riza Syahputra menyampaikan, secara umum tren kasus HIV/AIDS di Kalteng mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2021 tercatat 264 kasus, meningkat menjadi 387 kasus di 2022. Tapi melonjak lagi menjadi 539 kasus pada 2023. Sementara pada 2024 jumlah kasus menurun menjadi 419, dan pada tahun 2025 tercatat 414 kasus.
“Penurunan jumlah kasus pada tahun 2024 bukan berarti penularan menurun drastis. Tetapi dipengaruhi oleh perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan HIV/AIDS secara online melalui SIHA versi 2.1 yang kini mampu memfilter data ganda berdasarkan NIK,” kata Riza, Senin (2/2/2026).
Berdasarkan hasil tinjauan di lapangan, penemuan ODHIV baru paling banyak berasal dari kelompok LSL, disusul populasi umum, kemudian pasangan berisiko tinggi dan pelanggan pekerja seks. Faktor utama yang memengaruhi penularan HIV masih didominasi perilaku seksual berisiko, seperti berganti-ganti pasangan dan tidak menggunakan kondom, selain faktor usia, jenis kelamin, serta status sosial ekonomi.
Di sisi lain, Riza menyebut terdapat daerah yang dinilai berhasil menekan penyebaran HIV/AIDS. Salah satunya Kabupaten Seruyan. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari upaya skrining aktif serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat.
Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng terus memperkuat berbagai langkah pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS. Mulai dari edukasi dan promosi kesehatan, skrining di puskesmas dan rumah sakit, pemenuhan alat tes HIV dan kondom bagi populasi kunci, hingga penyediaan obat antiretroviral (ART) bagi pasien ODHIV. Selain itu, layanan pemeriksaan viral load gratis juga disiapkan untuk memantau keberhasilan pengobatan.
Menurut Riza, peningkatan penemuan kasus justru dapat dimaknai sebagai keberhasilan program. “Ini menunjukkan akses layanan semakin terbuka, skrining semakin masif, dan kesadaran masyarakat, khususnya kelompok berisiko, semakin baik untuk melakukan tes secara sukarela,” ungkapnya. (ifa/ens)
Kasus HIV/AIDS di Kalteng tahun 2025 :
- Kotawaringin Barat : 72
- Kotawaringin Timur : 82
- Kapuas : 12
- Barito Selatan : 8
- Barito Utara : 21
- Barito Timur : 12
- Gunung Mas : 9
- Katingan : 22
- Seruyan : 1
- Sukamara : 4
- Lamandau : 12
- Pulang Pisau: 9
- Murung Raya : 6
- Palangka Raya: 144












