Pensil Kita Hadir Bersama Gerobak Buku
Di tengah riuh langkah kaki warga yang menikmati Minggu pagi, sebuah gerobak sederhana berdiri tak jauh dari kawasan car free day (CFD). Bukan menjajakan makanan atau minuman, gerobak itu justru memajang buku novel, buku sejarah, hingga bacaan pengetahuan umum. Di sanalah Pensil Kita hadir membawa literasi lebih dekat ke masyarakat.
SITI NUR MARIFA, Palangka Raya
PENSIL Kita merupakan singkatan dari Pendidikan Lingkungan dan Sosial. Sebuah komunitas literasi yang mulai berdiri pada tahun 2023. Awalnya, kegiatan mereka berlangsung di depan kawasan Dandang Tinggang. Karena beberapa pertimbangan, lokasi lapak kemudian berpindah ke area sekitar taman CFD.
“Sejak awal, kami memang ingin hadir di ruang publik,” ujar Agustiansyah, salah satu penggerak Pensil Kita, Minggu (25/1/2026).
Menurut dia, ruang publik adalah tempat paling jujur untuk bertemu masyarakat dari berbagai latar belakang, tanpa sekat usia, gender, maupun status sosial.
Kegiatan Pensil Kita rutin digelar setiap Minggu pagi. Satu kali dalam sepekan. Meski tidak buka setiap hari, konsistensi menjadi kunci. Gerobak buku itu menjadi penanda bahwa membaca tidak harus selalu berada di ruang tertutup seperti perpustakaan atau ruang kelas.
“Masih ada kesan kalau membaca itu harus di tempat tertentu, harus sunyi, harus serius. Nah, kami ingin mematahkan pemikiran itu,” kata Agustiansyah.
Melalui gerobak buku, Pensil Kita berupaya menggeser cara pandang masyarakat bahwa buku bisa hadir di mana saja dan kapan saja.
Buku-buku yang dipajang sebagian besar merupakan koleksi pribadi para pengelola. Namun, Pensil Kita juga membuka ruang bagi masyarakat yang ingin menyumbangkan atau meminjamkan buku mereka. Jenis bacaan yang tersedia pun beragam. Mulai dari fiksi, nonfiksi, novel, sejarah, hingga buku keagamaan, semua disesuaikan dengan bacaan yang umum dikonsumsi masyarakat.
Menariknya, semua buku di gerobak tersebut gratis untuk dibaca. Pengunjung bahkan diperbolehkan meminjam dan membawa pulang buku, dengan prosedur sederhana seperti mencatat nama dan dokumentasi. Tidak ada aturan ketat.
Seiring waktu, antusiasme masyarakat pun mulai terlihat. Anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia tak ragu mendekat, membuka halaman demi halaman, lalu bertanya tentang isi buku. Tak jarang, obrolan kecil berkembang menjadi diskusi ringan yang hangat.
Selain membuka lapak buku, Pensil Kita juga kerap mengadakan diskusi publik dengan mengundang aktivis, dosen, dan tokoh masyarakat. Diskusi tersebut menjadi ruang bertukar gagasan, sekaligus memperluas fungsi gerobak sebagai ruang literasi hidup.
Ke depan, Pensil Kita berharap bisa terus bertumbuh dan berkolaborasi, baik dengan komunitas lain maupun instansi pemerintah.
Tantangan terbesar yang mereka hadapi saat ini adalah persoalan izin penggunaan ruang publik.
“Kami ingin benar-benar mendapat izin, supaya bisa lebih leluasa hadir dan bersuara langsung di tengah masyarakat,” kata Agustiansyah.
Dengan gerobak sederhana dan semangat berbagi pengetahuan, Pensil Kita membuktikan bahwa literasi tidak selalu lahir dari bangunan megah. Kadang, ia tumbuh dari trotoar, dari ruang terbuka, dan dari kesadaran kecil bahwa membaca adalah hak semua orang. (ifa/ens)












