Kisah Walet dan Lahan Parkir Masjid Nurul Iman Kuala Jelai
Pagi-pagi sekali, jauh sebelum azan subuh berkumandang, Masjid Nurul Iman di Kuala Jelai, Kabupaten Sukamara, masih diselimuti sunyi. Hanya suara kepakan sayap burung yang terdengar dari bagian atas bangunan. Puluhan tahun lalu, suara itu bukan pertanda berkah. Ia justru dianggap gangguan.
SITI NUR MARIFA, Sukamara
BURUNG-burung itu adalah walet yang kemudian hari justru menjadi salah satu penopang utama kehidupan Masjid Nurul Iman. Bahkan menjadi masjid satu-satunya di Kalimantan Tengah yang terintegrasi dengan sarang walet.
Kisah ini bermula pada akhir 1990-an. Ketika itu, Masjid Nurul Iman masih berupa bangunan setengah jadi. Tiang-tiang sudah berdiri, namun atap belum sepenuhnya rampung. Di sekitarnya belum banyak rumah, dan aktivitas jemaah masih terbatas.
Pada masa itulah burung-burung mulai berdatangan. Awalnya bertengger di ornamen kuningan dan bagian atas bangunan masjid. Tidak hanya walet, tapi bercampur dengan jenis burung lain. Jumlahnya belum banyak. Sekitar belasan ekor.
Setiap pagi sebelum subuh, burung-burung itu beterbangan dan membuat suasana gaduh. Reaksi masyarakat pun spontan, mengusir. Tidak sedikit yang merasa terganggu dengan suara dan kotorannya.
“Kami pikir waktu itu, burung ini mengganggu ibadah,” ujar Ketua Masjid Sulaiman melalui Bendahara Masjid Agusdiansyah, Jumat (26/12/2025) lalu.
Waktu terus berjalan, burung walet tidak juga pergi. Justru mereka mulai membangun sarang di bagian dalam masjid. Ketika masjid akhirnya rampung sekitar 2002, walet sudah terlanjur menetap.
Perlahan muncul kesadaran baru. Masyarakat mulai mendengar cerita tentang nilai sarang walet yang tinggi. Diskusi pun dilakukan. Akhirnya diputuskan untuk mencoba memanen sarang walet.
Panen perdana dilakukan sekitar 2002. Hasilnya mengejutkan. Sekitar 8 ons sarang walet. Pada masa itu, harga sarang walet mencapai sekitar Rp 15 juta per kilogram.
Uang hasil panen pertama digunakan untuk kepentingan masjid. Salah satu hasil nyatanya adalah pemasangan keramik lantai masjid, yang hingga kini masih digunakan jemaah. “Keramik masjid ini dari hasil walet pertama,” kata Agusdiansyah.
Sejak saat itu, walet tak lagi dianggap masalah. Ia berubah menjadi aset bersama.
Keunikan lain dari walet Masjid Nurul Iman adalah perilakunya. Setiap pagi, burung-burung ini keluar mencari makan dan terkadang singgah di bangunan lain. Namun menjelang sore, mereka selalu kembali ke masjid. “Pulangnya ke sini lagi. Masjid ini seperti rumahnya,” terang Agusdiansyah.
Fenomena ini membuat Masjid Nurul Iman menjadi salah satu habitat walet tertua di kawasan Kuala Jelai. Bahkan sebelum rumah-rumah walet berdiri di sekitarnya.
Dalam beberapa tahun, hasil panen walet membantu banyak kebutuhan masjid. Mulai perawatan bangunan, kegiatan ibadah, hingga pembayaran gaji petugas masjid (labai). Meski harga walet kemudian menurun, kontribusinya tetap terasa.
Namun pengurus masjid tidak berhenti sampai di situ. Kesadaran untuk mandiri mendorong mereka melihat potensi lain yang ada di sekitar masjid.
Masalah parkir mulai muncul seiring bertambahnya kendaraan warga. Mobil sering parkir sembarangan dan mengganggu akses jalan serta aktivitas jemaah. Dari situ muncul gagasan untuk menata halaman masjid dan menjadikannya lahan parkir.
Inisiatif ini bukan sekadar mencari pemasukan, tetapi juga menjawab kebutuhan sosial warga. “Kami lihat masyarakat parkir sembarangan. Daripada mengganggu, lebih baik ditata,” ungkap Agusdiansyah.
Halaman masjid kemudian diratakan melalui gotong royong. Sekitar 53 truk tanah dan pasir didatangkan dari Sungai Damar, seluruhnya hasil swadaya masyarakat.
Sistem parkir di Masjid Nurul Iman tidak disebut sebagai pajak, melainkan infaq atau iuran kesepakatan. Besarannya sekitar Rp 100.000 per bulan per pengguna.
Saat ini tersedia sekitar enam ruang parkir. Ambulans masjid dibebaskan dari biaya. Hasil parkir dimasukkan ke kotak kas masjid dan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan masjid. “Kalau ada yang mau menyumbang lebih, silakan. Tidak ada paksaan,” akuinya.
Parkir masjid pun menjadi sumber pemasukan tambahan yang melengkapi hasil walet.
Perjalanan Masjid Nurul Iman menunjukkan satu benang merah, kemampuan membaca potensi sekitar. Burung walet yang dulu diusir kini menghidupi masjid. Halaman yang dulu kosong kini tertata dan memberi manfaat.
Masjid tidak hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga ruang belajar tentang kemandirian, kebersamaan, dan kearifan lokal. “Masjid ini dibangun bukan hanya dengan uang, tapi dengan pengalaman,” akuinya.
Di Masjid Nurul Iman, berkah datang dari arah yang tak disangka. Dari kepakan sayap walet di langit-langit masjid, hingga deretan mobil yang tertata rapi di halaman. Semua bermuara pada satu tujuan, menjaga rumah ibadah agar tetap hidup dan bermanfaat bagi jemaahnya. (ifa/ens)












