Protes Tunjangan Wakil Rakyat hingga Muak Aksi Represif Aparat
PALANGKA RAYA – Indonesia diwarnai aksi unjuk rasa di berbagai daerah. Mulai dari Jakarta, Yogyakarta, Makassar hingga daerah-daerah lainnya. Termasuk halnya di Kota Palangka Raya.
Penyampaian aspirasi masyarakat di publik pada berbagai daerah itu diikuti dengan kericuhan yang melumpuhkan akses mobilitas, transportasi umum hingga kerusakan fasilitas negara.
Tidak sedikit korban berjatuhan, baik dari sisi demonstrasi maupun kepolisian. Aksi demo tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga kota metropolitan lainnya di Indonesia, seperti Medan dan kota lainnya.
Demonstrasi ini awalnya merupakan luapan kekecewaan masyarakat terhadap para anggota DPR, termasuk tunjangan wakil rakyat. Kemudian meluas menjadi kemarahan terhadap kepolisian.
Aksi demonstrasi pun tidak lagi menyasar gedung DPR RI. Di Jakarta, ada dua konsentrasi massa, yakni Polda Metro Jaya dan Mako Brimob Kwitang.
Tuntutan mereka serupa, yakni minta keadilan terhadap pelaku penabrak ojek online Affan dan memprotes tindakan kekerasan yang dilakukan polisi saat mengawal demonstrasi sejak awal pekan.
Tak hanya di Jakarta, aksi demonstrasi dan berujung bentrok juga terjadi di beberapa kota di Indonesia. Tak terkecuali di Kota Palangka Raya.
Dua hari berturut-turut, mulai Jumat (29/8/2025) hingga Sabtu (30/8/2025) gelombang aksi dilakukan oleh aliansi Revolusi Kepolisian Total (REKONTAL) dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Cipayung Plus.
Hari pertama demo, orasi awalnya berjalan lancar. Turunnya Kapolda Kalteng Iwan Kurniawan menemui massa nyatanya tak dapat meredam situasi panas para demontran.
Seakan tak puas dengan jawaban kapolda, mereka berupaya mendobrak masuk markas Polda Kalteng, kericuhan pun tak dapat dihindari.
Pagar Mapolda Kalteng nampak terkoyak. Sementara itu, lemparan botol bekas oleh peserta aksi masif terjadi. Polisi sempat menembakan water canon untuk menghalau massa.
Kordinator Lapangan Bintang menyampaikan, terdapat peserta aksi yang mengalami luka-luka saat demo. Salah satu pendemo yang terluka itu diketahui sebagai kader GMNI Palangka Raya. “Kepalanya bocor, pecah kena pentungan, kena pukul,” ujar Bintang. “Kami mengecam keras atas kejadian itu, dan menunggu tanggung jawab dari pihak kepolisian,” tegasnya.
Juru bicara Aliansi Rekontal Maulana juga menyampaikan, mulanya terdapat lima tuntutan yang dibawa dalam aksi tersebut. Kemudian diubah menjadi tiga tuntutan, dengan alasan menyesuaikan kewenangan yang dimiliki Polda Kalteng. “Tadi kan kami ada lima tuntutan, kemudian disesuaikan dengan kewenangan dari Polda Kalimantan Tengah menjadi 3 tuntutan,” ujarnya.
Salah satu tuntutan aksi yang batal adalah meminta agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dicopot dari jabatannya. Menurut Maulana, banyaknya kejadian represifitas yang dilakukan oleh oknum kepolisian akhir-akhir ini menjadi catatan merah untuk Kapolri.
“Kepolisian itu harusnya bertanggung jawab melindungi rakyat. Nah dengan kasus-kasus yang belakangan terjadi ini, artinya, dia gagal mendidik anak-anak buahnya, seperti itu,” tegasnya.
Demo hari pertama pun selesai. Keesokannya, Sabtu (30/8/2025), ratusan massa dari Aliansi Cipayung Plus menggeruduk Mapolda Kalteng. Barikade kawat berduri di depan pagar menyambut kedatangan mereka.
Koordinator Lapangan Andri Mulyanto mengatakan, pihaknya tidak bisa tinggal diam menyaksikan kondisi bangsa saat ini. Mereka menuntut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mundur dari jabatannya, mengusut tuntas kasus pembunuhan driver ojol secara transparan, reformasi internal di tubuh Polri, menertibkan moral anggota Polda Kalteng, serta meminta kapolda menyiarkan permintaan maaf secara terbuka ke publik atas aksi represif seluruh aparat di Bumi Tambun Bungai, julukan Kalteng.
Andri menegaskan, tuntutan ini bukan hanya suara mahasiswa, tetapi juga suara masyarakat Kalteng yang merasa dirugikan oleh tindakan represif aparat. “Kami akan terus mengawal tuntutan ini, dan memastikan bahwa suara masyarakat Kalimantan Tengah didengar oleh pihak berwenang,” ucapnya.
Sementara Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan menegaskan, pihaknya telah mendengar aspirasi yang disampaikan para demonstran. “Sebagai Kapolda Kalteng sudah tentu akan melaksanakan tugas pokok kami sebaik-baiknya. Kalaupun masih ada hal-hal yang masih kurang saya berjanji akan diperbaiki dan dibenahi,” ujarnya usai menemui massa.
Iwan juga berkomitmen membuka ruang dialog dengan mahasiswa. “Karena tadi cukup banyak orasi yang disampaikan, nanti ke depan adik-adik sekalian saya akan undang satu per satu untuk kita bahas permasalah-permasalahan yang ada di Kalimantan Tengah ini,” tambahnya.
Menanggapi aksi tersebut, Kabid Humas Polda Kalteng Kombes Pol Erlan Munadji mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban dalam menyampaikan aspirasi. “Mengacu kepada aturan yang berlaku sehingga bisa menjadikan Kalteng aman dan kondusif,” kata Erlan. (rdo/ens)
